.

Search This Blog

Showing posts with label Konstruksi Beton. Show all posts
Showing posts with label Konstruksi Beton. Show all posts

Pengenalan Form Work pada Proyek Konstruksi

Pengenalan Form Work pada Proyek Konstruksi

Form Work Kolom

Saat ini konstruksi Beton berperan sebagai bahan bangunan yang dugunakan pada berbagai macam proyek konstruksi, Baik untuk gedung maupun untuk bangunan sipil lainnya. Walaupun bangunan menggunakan konstruksi baja, namun pastinya ada beberapa bagiannya yang menggunakan Beton.

Karena Konstruksi Beton selain lebih ekonomis, tetap saja lebih disukai karena konstruksi Beton dapat mengikuti bentuk yang di inginkan oleh desainer.

Namun demikian Konstruksi Beton Baik dari Aspek Estetika maupun Aspek Biaya, tidak terlepas dari perkembangan Teknologi Konstruksi yaitu Teknik FormWork.

Penggunaan Form Work tidak dapat dihindari, untuk memberi bentuk yang kita inginkan dari beton yang masih plastis, dan sebagai bagian yang akan menunjang beton selama beberapa hari atau minggu,sampai kekuatan Beton mencukupi setelah itu Form Work dapat dilepas dan bisa digunakan lagi.

Form Work dikatagorika sebagai Stuktur sementara ataupun struktus pembantu. tapi form work harus diperiksa dan dirancang untuk stabil dan memenuhi syarat kekuatan, seperti halnya struktur permanen.

Hal yang perlu dipikirkan dalam perancangan wormwork yaitu :

Tradisional Form Work
- Kemudahan pemasangan dan pembongkaran agar bahan worm work tidak rusak.
- Sirkulasi dari form work.

Ditinjau dari segi biaya, perhatian form work harus ditingkatkan, karena presentase biaya form work terhadap biaya konstruksi bisa mencapai 28%. sebagai kontraktor, penghematan biaya konstruksi bisa dapat dilakukan bila form work dikerjakan secara efisien.

Elemen Utama dari Form Work

Elemen Utama Form Work

* Kulit form work
bagian ini berhubunga langsung dengan beton plastis, memberi bentuk pada bentuk dan motif permukaan.

Syarat utama sebagai kulit form work

- Tidak mengandung bahan-bahan yang secara kimiawi akan berpengaruh pada beton.
- Harus kedap akan beton plastis.
- Mudah untuk dikerjakan dan dibentuk

Material yang bisa digunakan sebagai Kulit Worm Fork

Form Work Dinding Dari Baja

 

- Kayu dalm bentuk Plywood (Kayu Lapis)
- Logam/metal (Aluminium, Pelat, Baja)
- Plastik


* Struktur Penunjang
yaitu Beban yang diterima oleh kulit form work harus disalurkan ke struktur penunjang.

Syarat Struktur Penunjang

- Kokoh, Stabil, Memenuhi Syarat Lendutan
- Bagian-bagian yang diperlukan mudah dipasang/dibongkar.

Material yang bisa digunakan sebagai Struktur Penunjang

Struktur Penunjang Form Work Aluminium

 

- Kayu dalam bentuk Balok atau Trus
- Bambu yang sudah diawetkan
- Logam (Baja, aluminium)


Demikianlah pembahasan sekilas tentang Form Work yang berfungsi sebagai Pemberi Motiv pada permukaan beton dan untuk memikul serta menyalurkan beban dari beton yang masih plastis. semoga bisa bermanfaat.

Anda Juga Bisa Membaca Artikel Lain Tentang Teknik Sipil :



Pekerjaan Konstruksi Beton

Pekerjaan Konstruksi Beton

Tempat Pembuatan Beton

Pabrik Pembuatan Beton

Tempat Pembuatan Beton Mutu Tinggi

Pekerjaan Beton


Pada umunya pekerjaan bangunan air dan bangunan gedung tidak luput dari pekerjaan beton, hal ini sangat penting sekali serta memerlukan perhatian khusus.

Pekerjaan beton bertulang dapat digolongkan menjadi beberapa macam yakni:

- Plat,dapat berbentuk tiang-tiang beton,dinding beton.
- Balok dapat berbentuk :balok lantai, balok T dan yang sejenis.
- Kolom dapat berbentuktiang-tiang beton.
- Luifel dan tangga.

Mobil Pengangkut Beton



Untuk dapat melaksanakan pemberian yang tepat dan baik harus merinci penulangan-penulangan tersebut antara lain ialah

- Mencari/menghitung jumlahnya besi yang dibengkokkan dan akan dipotong.
- Memisahkan dan menjumlah baerapa banyaknya tulang utama,tulang pembagi serta tulang ekstra.
- Menetukan diameter besi serta jenis besi yang dibutuhkan dengan gambar perasaan.
- Menetukan jumlah berat besi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pembesian.
-  Pada pekerjaan selanjutnya sesudah mengupas penbesian dan menentukan jumlah tulang yang dibengkokkan kita harus menetukan panjangnya serta berat besi beton itu yang dipergunakan,untuk menghitung berat dan panjang tentu saja kita buatkan daftar pembengkokkan urat (daftar beton).


 
Dalam pelaksanaan pembengkokan besi beton dapat dilaksanakan dengan mesin atau dengan tangan ,dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari pada umunya di pergnakan dengan tenaga mausia kecuali apabila tenaga manusia tidak mampu lagi melaksanakan pembengkokan , ini baru dilaksanakan dengan mesin.
Merangkai besi beton dilakukan setelah pembengkokan besi-besi sudah selesai sesuai dengan krbutuhan, pekerjaan selanjutnya adalah melaksanakan pangikatan atau merangkai.



Pada waktu melaksanakan pengecoran harus diusahakan sampai selsai,angan berhenti untuk mengatasi ini pelaksanaan dapat dilaksanakan pada siang dan malam hari, pelaksanaan pengocoran dapat dimulai tepat pada panas matahari mulai surut,sebab bila dimulai pada panas matahari naik beton akan cepat menjadi kering akibatnya akan retak-retak/pecah. Dengan sendirinya persiapan dan pengaturan tenaga kerja harus baik,bila pengocoran hanya sedikit maka pelaksanaannya dapat dikerjakan pada saat-saat atau waktu yang diperlukan.
Bila terpaksa pada waktu pengocoran tidak dapat diteruskan karena sesuatu hal (hujan) maka pemberhentian pengocoran harap dilakukan pada bidang-bidang yang mempunyai momen nol,serta bekas pengocoran terakhir supaya diberi goresan atau batu tonjolan untuk tempat melakukan pengecoran selanjutnya.Pada penyambungan pengecoran antara beton lama dan beton yang baru sebaiknya diberi air semen yang kental atau diberi lem yang disebut "Calbind" yakni cairan berwarna putih yang dicampur dengan semen (pc) denan  perbandingan 19: 1 dan jangan dibiarkan lebih dari 1 jam sebab bila lebih lem tersebut tidak akan berfungsi lagi.
Pada waktu pelaksanaan pengocoran harus dipadatkan dengan jalan menusuk-nusuk dari atas atua dengan getaran dan dapat pula dengan mesin penggetar sebab alau tidak akan menghasilkan pengecoran sebagai berikut:
- Beton akan keropos atau berlubang-lubang.- Beton tidak padat.- Untuk plat dapat menyebabkan bocor.





Pada pelaksanaan membuat adukan beton yang terlalu banyak akan menyebabkan terlalu berat bagi pekerja sebaiknya dicampur sedikit dan juga harus diingat bahwa spesi beton yang telah lewat 1/2 jam sesudaj diadu akan mulai mengeras sedikit demi sedikit maka campuran tersebut harus secukupnya saja kemudian setelah habis dapat mencampur kembali.

Alat Pencampur Beton
Semen merupakan tulang punggung beton sebab semen yang mempersatukan buti-butir pasir dan kerikil, kualitas semen menetukan kualitas beton.jenis semen adalah:

- Semen portland (semen pc).   

Semen portland besi minimum dari 70% berat semen portland biasa dan maksimum 30% berat terak dapur tinggi dan dicampur menjadi satu.

- Semen dapur tinggi terdiri dari 15% - 69%berat semen biasa dan 85% -31% berat terak dapur tinggi yang dicampur menjadi  satu.
- Semen aluminium, dibuat dari CaO dan Al2 O3 bahan penting untuk ini agalah bauksit.
- Semen portland tras ,terdiri dari 70% berat semen portland dan 30% tras, semen ini kurang memberi perekatan terhadap beton.
- Semen putih,dibuat dari bahan yang murni sekalu tidak mengandung oksida lagi yang mengakibatkan warna putih,untuk membuat macam-macam warna,semen putih berwarna.
- Semen siliko, semen ini adalah campuran dari semen portland dan kwarsa yang digiling halus bersam-sama.

Berhubung semen itu bila kena air atau udara yang lembab akan menjadi keras maka dalam menimbun semen harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

- Ketika mengangkat semen ketempat penimbunan harus dijaga jangan samapai kena air.
- Lantai papan untuk tempat penimbunan harus terletak 0,3 meter dari lantai (tanah)letak dengan dinding sejauh 0,5 ; tinggi timbunan maksimum 2 meter , lebih baik lagi bila tempat penimbuan diberi aspal.
- Timbuhan berbagai jenis semen sebaiknya dipisah-pisahkan.

Jenis-Jenis beton

Beton siklop

Campurannya terdiri dari semen :pasir: kerikil + batu kli dengan diameter ± 30cm,gunanya untuk membuat pondasi sumuran.

Beton bertulang

Campurannya terdiri dari semen (pc):pasir:kerikildi tambah batang-batang besi yang digunakan khusus untuk besi beton,digunakan untuk bangunan-bangunan yang menahan gaya,besi digunakan dalam erhitungana yang menahan gaya tarik,adakalanya juga dipergunakan dari baja profil,beton ini dikatakan beton dengan tulang profil teguh,air yang digunakan ±9% tiap 1 m³ beton.

Beton tumbuk

Campurannya terdiri daro pc: pasir dan kerikil dengan air ± 5% tiap1 m³ beton.Digunakan untuk urung-urung beton,rooster, dinding-dinding rumah kadang-kadang umpak untuk bangunan semi permanen.

Beton cair

Campuran terdiri dari pc:pasir:kerikil,air yang digunakan ± 14% tiap 1 m³ beton,digunakan untuk konstruksi yang tipis-tipisdan banyak tulangannya.

Beton plastik

Campuran terdiri dari pc:pasir:kerikil.campuran ini dalam adukannya dapat dikepal dengan tangan,digunakan untuk beton bertulang yang corak tulangnya cukup biasanya dipakai perbandingan 1:2:3.

Beton dikatakan gemuk dan kurus, tergantung pada semen (pc)yang digunakan,beton dikatakan kurus bila menggunakan pc(semen)sedikit.

Pemeliharaan beton ada 2 macam yakni


Pemeliharaan  beton selama proses pegerasan sampai batas umur, cara pemeliharaan ini dilakukan dengan syarat-syarat:

- Menggenangi air  pada waktu beton masih basah ± 1 minggu setelah pengecoran;
- Tidak boleh ada muatan (kostruksi)sebelum beton berumur 1 minggu.
- Pada sisi-sisi balok dan kolo sesudah 3 hari boleh dibongkar hal selanjutnya dapat dilihat pada peraturan beton berulang

Pemeliharaan dalam hal beton sudah dapat berfungsi atau selama beton sudah diambil papan kayunya , untuk ini kita bagikan antara lain:

- Melindungi terhadap zat agresif.
- Pengecatan.
- Penelitian kecerobohan dan lain-lain.

Syarat perancangan Beton SNI

Syarat perancangan Beton Standar Nasional Indonesia

Perancangan Beton

Perancangan cara Inggris atau yang dikenal dengan metode Departemen Pekerjaan Umum yang tertuang dalam SK.SNI.T-15-1990-03 "Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal" Merupakan Adopsi dari cara Departement of Environment (DoE), Building Research Establishment,Britain.

Kuat Tekan Rencana Beton (MPa)

Beton yang dirancang harus memenuhi persyaratan kuat tekan rata-rata, yang memenuhi syarat berdasarkan data deviasi standar hasil uji kuat tekan yang lalu (umur 28 hari) untuk kondisi dan jenis konstruksi yang sama. Persyaratan kuat tekan didasarkan pada hasil uji kubus berisi 150 mm, maka hasilnya harus dikonversi menggunakan persamaan :

f'c = [ 0.76 + 0.2 Log (f'ck/15) f'ck,

Dimana :
f'c    = Kuat tekan beton yang disyaratkan, MPa.
f'ck    = Kuat tekan beton, MPa, dari uji kubus beton bersisi 150 mm.

data kuat tekan sebagai dasar perancangan, dapat menggunakan hasil uji kurang dari 28 hari berdasarkan data rekaman yang lalu untuk kondisi pekerjaan yang sama dengan karakteristik lingkungan dan kondisi yang sama. Jika mengguanakan hal ini maka dalam perancangan harus disebutkan (dalam gambar atau dalam uraian lainnya), dan hasilnya dikonversi untuk umur 28 hari berdasarkan Tabel 8.16 (PB, 1989:16)

Umur Beton (hari)                3          7        14      21        28
--------------------------------------------------------------------
Semen Portland Tipe 1        0.46    0.70    0.88    0.96    1.00

Pemilihan Proporsi Campuran Beton

Rencana kekuatan beton didasarkan pada hubungan antara kuat tekan dengan faktor air semen. Pemilihan proporsi campuran beton harus memenuhi syarat atau ketentuan - ketentuan sebagai berikut :

- Untuk beton dengan kuat tekan f'c lebih dari 20 MPa, Proporsi campuran percobaan harus didasarkan pada campuran berat (weight batching), (PB,1989 : 17).

- Untuk Beton dengan kuat tekan f'c hingga 20 MPa proporsi campuran percobaan boleh didasarkan pada campuran volume (volume Batching- ASTM C.685). Penakaran volume harus didasarkan pada proporsi campuran dalam berat yang dikonversikan ke dalam volume berdasarkan berat satuan volume (bulking) dari masing - masing bahan (PB, 1989 : 17).

- Khusus untuk beton yang direncanakan mempunyai kekuatan sebesar 10 MPa, bila pertimbangan praktis dan kondisi setempat tidak memungkinkan pelaksanaan beton dengan mengikuti prosedur perancangan proporsi campuran (PB,1989:17), dapat digunakan perbandingan 1 PC : 2 agregat Halus : 3 Agregat kasar, dengan nilai slump beton tidak boleh melebihi 100 mm. Jika beton tersebut digunakan untuk struktur yang kedap air, dapat digunakan perbandingan 1PC : 1.5 agregat halus : 2.5 agregat kasar.

BAHAN CAMPURAN BETON

bahan yang digunakan dalam campuran harus memenuhi syarat standar yaitu :

- air harus memenuhi syarat yang berlaku, dalam hal ini tertuang dalam SK.SNI.S-04-1989-F tentang spesifiaksi air sebagai bahan bangunan. Air yang dapat diminum dapat langsung digunakan, jika tak memenihu syarat atau tak dapatdiminum, air yang digunakan harus memenuhi syarat uji perbandingan kekuatan tekan dengan menggunakan bahan air standar, minimal memenuhi syarat 90% kuat tekannya. perbandingan campuran dibuat dan di uji berdasarkan syarat uji ASTM C.109, " Test Methods for Compressive Strength of Hydraulic Cemen Mortars (using 50 mm cube Specimens).

- Semen harus memenuhi syarat SII-0013-81, tentang Mutu dan cara uji semen Portland atau SK.SNI.S-04-1989-F " Spesifikasi Bahan Perekat Hidrolis sebagai bahan bangunan.

- Agregat Halus memenuhi syarat SII-0052-80 tentang mutu dan cara uji agregat beton atau SK.SNI-S-04-1989-F, Spesifikasi agregat sebagai bahan bangunan.

- Bahan tambah yang digunakan harus memenuhi syarat SK.SNI.S-18-1990-03 Spesifikasi Bahan Tambah Untuk Beton Atau SK.SNI.S-19-1990-03 Jika menggunakan bahan tambah gelembung udara.
KLIK TOMBOL G+ jika anda Suka

Kriteria Perancangan Campuran Beton

Kriteria Perancangan Campuran Beton

Mixed Concrete

Campuran  beton merupakan perpaduan dari komposit material penyusunnya. karakteristik dan sifat bahan akan mempengaruhi hasil rancangan. perancangan campuran beton dimaksudkan untuk mengetahui komposisi atau proporsi bahan - bahan penyusun beton  proporsi campuran dari bahan - bahan penyusun beton ini ditentukan melalui sebuah perancangan beton (mix design). hal ini dilakukan agar proporsi campuran dapat memenuhi syarat teknis serta ekonomis. dalam menentukan proporsi campuran dapat digunakan beberapa metode yang dikenal, antara lain :

1. Metode American Concrete Institute
2. Portland cement association.
3. Road Note no. 4
4. British Standard atau Departement of Enviroment
5. Departemen Pekerjaan Umum. dan
6. Cara Coba - coba (tri and eror)


Perencanaan campuran beton merupakan suatu hal yang komplek jika dilihat dari perbedaan sifat dan karakteristik bahan penyusunnya. karena bahan penyusun tersebut akan menyebabkan variasi dari produk beton yang dihasilkan. pada dasarnya perancangan campuran dimaksud-kan untuk menghasilkan suatu proporsi campuran bahan yang optimal dengan kekuatan yang maksimum. pengertian optimal adalah penggunaan bahan yang minimum dengan tetap mempertimbangkan kriteria standar dan ekonomis dilihat dari biaya keseluruhan untuk membuat struktur beton tersebut.

Kriteria dasar perancanaan beton adalah kekuatan tekan dan hubungan dengan faktor air semen yang digunakan. kriteria ini sebenarnya kontradiktif dengan kemudahan pengerjaan karena menurut Abram,1920 (Neville, 1981) umtuk menghasilkan kekuatan yang tinggi penggunaan air dalam campuran beton harus minimum. jika air yang digunakan sedikit, akan timbul kesulitan dalam pengerjaan sesuai dengan pendapat Faret (1896) yang mempertimbangkan pengaruh rongga (voids).

Kriteria lain yang harus dipertimbangkan adalah kemudahan pengerjaan. seperti yang disebutkan diatas, faktor air semen yang kecil akan menghasilkan kekuatan yang tinggi, tetapi kemudahan dalam pengerjaan tak akan tercapai. perancangan beton tetap harus mempertimbangkan hal ini, salah satunya dengan menggunakan bahan tambah jenis Plastisizer atau super plastisizer. jika pengerjaan beton menggunakan pumping-concrete, mutlak dibutuhkan keenceran tertentu agar sifat pemompaan beton pada saat pengecoran dapat berjalan dengan baik.


Pemilihan agregat yang digunakan juga akan mempengaruhi sifat pengerjaan. butiran yang besar akan menyebabkan kesulitan, terutama karena akan menimbulkan segregasi. Jika ini terjadi, kemungkinan terbentuknya rongga - rongga pada saat beton mengeras akan semakin besar. selain dua kriteria utama tersebut, hal lain yang patut dipertimbangkan adalah keawetan beton (durability) dan permeabilitas beton sendiri.

VARIABILATAS BETON

Variabilitas dalam beton akan mempengaruhi nilai kekuatan tekan dalam perancangan beton. pengertian variabilitas dalam kekuatan beton pada dasarnya tercermin melalui nilai standar deviasi. asumsi yang digunakan dalam perencanaan bahwa kekuatan beton akan terdistribusi normal selama masal pelaksanaan yang diambil melalui hasil pengujian dilaboratorium. secara umum rumusan mengenai kekuatan tekan dengan mempertimbangkan variabilitas di tulis sebagai :

" f'cr = f'c + k.S"

Dimana :
fcr adalah kekuatan tekan rencana rata - rata
f'c adalah kekuatan tekan rencana
S adalah nilai standar deviasi
k adalah suatu konstanta yang ditirunkan dari distribusi normalkekuatan tekan yang dijinkan biasa diambil nilai k sebesar 1.64. Nilai k di USA adalah 1.645, di Ingris dibulatkan menjadi 1.64, sedangkan di Australia 1.65.

Beberapa peneliti di komite ACI memberikan nilai dasar k sebesar 1.64 atas variasi pengujian dari beton normal dengan kekuatan tekan 25- 55 mpa. untuk variasi kekuatan tekan beton dengan nilai lebih besar dari 55 MPa nilai variasi yang digunakan merupakan nilai variasi sebenarnya dari hasil uji statistik.

KEAMANAN DAN UMUR RENCANA BETON.

Nilai keamanan dalam perancangan beton dicerminkan dari batas yang dijinkan ditolak sebesar 5%, yang merupakan suatu nilai variabilitas dikalikan dengan nilai standar penyimpangan yang diduga terjadi. nilai keamanan dalam perancangan beton dinamakan suatu nilai tambah (margin).

Kekyata tekan rencana dalam perancangan didasarkan atas kekuatan tekan maksimum yang terjadi selama masa pengerasan. kekuatan tekan beton maksimum biasanya tercapai setelah umur 28 hari. umur 28 hari ini dijadika sebagai umur rencana.

Demikianlah tulisan sekilas tentang Kriretia Perancangan Campuran Beton ini. semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya yang terjun langsung pada perancangan beton. sehingga tulisan ini bisa di jadikan sedikit gambaran.


Jika anda suka Mohon Bagikan Tulisan ini
KLIK TOMBOL G+ jika anda Suka

Kebutuhan Dalam Penyeledikan Beton

Kebutuhan dalam penyeledikan Beton

Penelitian Beton

Penyelidikan terhadapa bahan - bahan penyusun beton dilakukan untuk memahami sifat dan karakteristik bahan - bahan tersebut serta untuk menganalisis dampaknya terhadap sifat dan karakterisitik beton yang dihasilkan, baik pada kondisi beton segar, beton muda maupun beton yang telah mengeras. dua kinerja utama beton yaitu kekuatan dan kemudahan pengerjaan Beton menjadi perhatian utama, namun aspek ekonomi yang berkaitan dengan keawetan (durability) juga menjadi perhatian.

Penyelidikan bahan untuk beton ini meliputi penyelidikan bahan semen, air, agregat kasar, agregat halus, dan bahan tambah.. beberapa standar dapat diadopsi dari prosedur standar untuk penyelidikan bahan - bahan tersebut, seperti SNI, ASTM,ACI dan seterusnya.

prosedur yang digunakana pada dasarnya hampir sama untuk semua standar, namun hal tersebut dipengaruhi pula oleh permintaan pelanggan yang dalam industri konstruksi biasanya tertuang pada spesifikasi teknis dan syarat - syarat atau permintaan langsung pihak pemilik.

Proses Penyelidikan Bahan Beton.

proses penyelidikan dalam pekerjaan beton meliputi semua tahapan yang dimulai dari penyelidikan dan pencarian sumber material, pengambilan contih uji (sampel) , pengujian bahan, perancangan komposisi, pengadukan, pengambilan contoh uji beton segar, perawatan dan pengujian beton keras.

Pengujian sampel Beton

sampel atau contih uji adalah bagian terkecil dari suatu kumpukan material dalam jumlah besar yang sedang berada dalam proses pengapalan,Stockpile (penimbunan material), Batch, truk,mobil angkut, atau belt- conveyor. karakteristik sampel menunjukan sifat dan karakteristik material yang diuji. alat ukur dan metode pengambilan sampel dapat mengikuti aturan statistik.

pengertian sampel dalam statistik adalah  comtoh uji dalam populasi, yaitu sekumpulan sampel uji yang diduga mempunyai sifat dan karakteristik yang homogen.
menurut aturan statistik, metode pengambilan sampel dapat dilakukan secara acak (random), bergantung pada populasinya. teknik pengambilan ini harus memenuhi karakteristik variabilitas sampel, dengan tetap memperhatikan banyaknya sampel uji yang dibutuhkan sesuai dengan kreteria statistik tersebut.

Perencanaan Sampel

banyaknya sampel yang diambil tergantung dari banyaknya populasi untuk kumpulan material yang akan diuji. hal ini biasanya didasarkan pada kriteria mengenai berapa penyimpangan yang boleh diterima (secara statistik dirumuskan berdasarkan kriteria variabilitas).

sampel yang diambil harus menginformasikan nomor contoh, ukuran, sumber asal lokasi material, saat pengmbilan, dan prosedur - prosedur baku teknik pengambilan. hal ini harus didasarkan pada kebutuhan kasar banyaknya sampel untuk pengujian laboratorium.
variasi keseragaman material dalam populasi akan menentukan jua banyaknya sampel yang dibutuhkan. semakin tinggi variasinya, semakin banyak sampel yang dibutuhkan, meskipun harus tetap memperhatikan rata - rata dan standar deviasi yang diharapkan.

Prosedur Standar Penyelidikan Beton

Standar Nasional Indonesia
menurut standar nasional Indonesia (SNI), pengujian bahan tertuang dalam pedoman Beton 1989 (draf konsensus) mengenai persyaratan pelaksanaan konstruksi. ketentuan yang sudah dibakukan dan menjadi syarat standar antara lain :

Semen,Air, dan agregat halus memenuhi ketentuan dalam SK.SNI.S-04-1989-F spesifikasi bahan bangunan bagian A (bahan bangunan bukan logam) meliputi spesifikasi tentang perekat hidrolis,Air dan agregat sebagai bahan bangunan. bahan tambah haru memenuhi spesifikasi bahan tambahan beton SK.SNI.S-18-1990-03, sedangkan bahan tambahan pembentuk gelombang harus mengikuti SK.SNI S-19-1990-03 mengenai spesifikasi bahan tambahan gelembung udara untuk beton.

Metode perancangan dalam pembentukan beton harus mengikuti tata cara yang disyaratkan dalam SK.SNI.T-15-1990-03 untuk perancangan campuran beton normal. perencanaan dalam pembentukan beton dengan karakteristik tertentu, misalnya harus kedap air, tahan sulfat, dan serangan terhadap ion - ion klorida maka harus mengikuti standar SK.SNI.S-37 tentang spesifikasi beton tahan sulfat dan SK.SNI.M-38-1990-02 tentang spesifikasi ion klorida.

Setelah komposisi bahan penyusun beton didapatkan, maka tahapan pengadukan dan pengecorannya juga harus mengikuti SK.SNI.T-28-1991-03 tentang tata cara pengadukan dan pengecoran beton. beton yang telah diaduk haruslah doabil contoh uji dengan mengikuti ketentuan SK.SNI.T-16-1991-03 yaitu tata cara pembuatan benda Uji untuk pengujuian laboratorium mekanika batuan, selanjutnya beton juga harus dirawat mengikuti ketentuan SK.SNI. M-62-1990-03 tentang metode pembuatan dan perawatan benda uji beton laboratorium. selanjutnya benda uji yang telah dirawat dilakukan pengujian tekan,geser,lentur,tergantung kebutuhannya.

beberapa standar yang dapat digunakan untuk pengujiuan tersebut antara lain SK.SNI. M-10-1991-03 tentang metode pengujian kuat tekan Uniaxial batu, SK.SNI.M-08-1991-03 tentang metode pengujian kuat lentur batu memakai gelagar sederhana dengan sistem beban titik ditengah, SK.SNI.M-09-1991-03 untuk pengujian geser langsung dan SK.SNI M-11-1991-03 untuk pengujian modolusi elastisitas batu pada tekanan sumbu tunggal.

Pertimbangan Pengambilan Sampel Beton

Banyaknya sampel uji yang akan diambil akan memengaruhi aspek ekonomis.pertimbangan aspek ekonomis juga tetap harus mempertimbangkan tingkat variabilitasnya. nilai keacakan atau probabilitas sampel yang diujinkan sebagai alat ukur dari tingkat kepercayaan untuk mengestimasi dari populasi yang diuji. Nilai bias atau untuk subjektivitas dalam pengambilan sampel harus diusahakan sedemikian hingga dapat dikurangi atau dihilangkan.

Banyak Faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan dan perencanaan banyaknya sampel uji. antara lain :
* Kecendrungan perencana dalam melihat material dilapangan jika kondisi yang ditemukan merupakan kondisi material yang berat,padat, dan kotor mengatakan sampel tidak dapat digunakan. hal ini lebih banyak karena kecendrungan subjektivitas atau keputusan perencana sendiri tanpa melalui proses pengujian awal.

* Banyak kasus pengambilan sampel tanpa memperhatikan kaidah statistik sehingga keterwakilan sampel dalam populasi menjadi bias.

* Kecendrungan peningkatan teknologi yang menyebabkan pengolahan material lebih dapat homogen sehingga sampel uji yang dimabilpun dapat lebih sedikit karena teknologi yang digunakan sudah otomatis membagi populasi material dalam kelompok - kelompok tertentu.

Kualitas Pengujian Beton.

kualitas pengujian sebagai kontrol dalam suatu prose sudah diwujudakn dalam sebuah standar yang meliputi konstrol terhadap kualitas pengambilan sampel, pengujian dan evaluasi penerimaan. selain hal baku tersebut kualitasnya sangat dipengaruhi oleh sistem dalam laboratorium itu sendiri. Menurut ISO Guide 49 tentang petunjuk kualitas. beberapa hal yang harus dijelaskan (tipikal topik) terhadap hasil pengujian dalam kerangka penulisan pelaporan hasil pengujian beton meliputi :

a. Daftar Isi
b. Kebijakan kualitas.
c. Terminologi.
d. Deskripsi struktur laboratorium
e. Staff.
f. Peralatan pengujian
g. Lingkungan.
h. Metode pengujian dan prosedur.
i. Updating dan kontrol dari dokumentasi kualitas.
j. Jenis - jenis pengujian
k. Verifikasi.
l. Laporan percobaan.
m. Pendataan (record)
n. Tanggunhjawab dan komentar.
o. Sub-kontrak dan kerja sama dengan laboratorium lain.


Mungkin untuk sementara pembahasan kita sampai disini dulu. Jika ada teman-teman yang mau tambahkan informasi seputar kebutuhan penyelidakan Bahan untuk beton agar kiranya bisa berkomentar di bawah ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua.Terima Kasih.

Jika anda suka Mohon Bagikan Tulisan ini

Sumber referensi : Teknologi Beton (Ir. Tri Mulyono, MT)

Baca Juga Artikel Lain :





Persyaratan Bahan Bangunan Beton



Persyaratan Bahan Bangunan Beton

CAMPURAN SEMEN UNTUK BETON

(1) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen Portland yang memenuhi SNI 15-2049-1994 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan IV. Apabila menggunakan bahan tambahan yang dapat menghasilkan gelembung udara, maka gelembung udara yang dihasilkan tidak boleh lebih dari 5 %, dan harus mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
(2) Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang boleh digunakan, kecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Jika di dalam satu proyek digunakan lebih dari satu merk semen, maka Penyedia Jasa harus mengajukan kembali rancangan campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.

CAMPURAN AIR PADA BETON

Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula atau organis. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan dalam SNI 03-6817-2002 Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan. Jika timbul keraguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak dapat dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen dan pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air suling. Air yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar dengan air suling pada periode perawatan yang sama.

CAMPURAN AGREGAT UNTUK BETON

(1) Ketentuan Agradasi Agregat
- Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan, tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut harus diuji dan harus memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan.
- Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih minimum antara baja tulangan atau antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton harus dicor.

(2) Sifat-sifat Agregat
- Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat yang diperoleh dari pemecahan batu atau koral, atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu) kerikil dan pasir sungai.
- Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya bila contoh-contoh diambil dan diuji sesuai dengan prosedur yang
berhubungan.

BATU UNTUK BETON SIKLOP

Batu untuk beton siklop harus keras, awet, bebas dari retak, rongga dan tidak rusak oleh pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton. Ukuran batu yang digunakan untuk beton siklop tidak boleh lebih besar dari 25 cm.

BAHAN TAMBAH BETON

Bahan tambah yang digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja beton dapat berupa bahan kimia atau bahan limbah yang berupa serbuk halus sebagai bahan pengisi pori dalam campuran beton.

Bahan Tambah Kimia

Bahan tambah yang berupa bahan kimia ditambahkan dalam campuran beton dalam jumlah tidak lebih dari 5% berat semen selama proses pengadukan atau selama pelaksanaan pengadukan tambahan dalam pengecoran beton. Bahan tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang ditentukan dalam SNI 03-2495-1991. Bahan tambah dapat diklasifikasikan sesuai dengan penggunaannya sebagai berikut :

(a) Tipe A - bahan pengurang kadar air  Tipe A berfungsi untuk mengurangi air dalam campuran, dan pengunaannya bertujuan untuk mengurangi water-cement rasio dalam campuran sesuai dengan workability yang diinginkan, atau untuk meningkatkan workability ada angka water-cement rasio yang telah ditetapkan.

(b) Tipe B - bahan untuk memperlambat waktu pengikatan Tipe B berfungsi untuk memperlambat waktu pengikatan pasta semen, sehingga akan memperlambat pengerasan dari beton. Bahan tambah jenis ini digunakan jika iklim di tempat pengecoran terlalu panas, dimana waktu pengikatan pasta semen dalam keadaan normal menjadi sangat pendek dikarenakan suhu yang tinggi.

(c) Tipe C - bahan untuk mempercepat waktu pengikatan Tipe C berfungsi untuk mempercepat waktu pengikatan pasta semen, yang akan mempercepat pengerasan dari beton sehingga mempercepat kekuatan beton, dan dapat digunakan dalam pabrik pembuatan beton precast (dimana perlu pelepasan bekisting secepatnya), atau pekerjaan perbaikan yang sangat penting.

(d) Tipe D - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan memperlambat waktu pengikatan Bahan tambah ini untuk menambah workability, dimana beton mempunyai kekuatan tinggi dapat dibuat workabel tanpa mengurangi density, ketahanan dan kekuatannya. Perlambatan waktu pengikatan sangat berguna untuk waktu pengangkutan adukan beton yang lama ke tempat pengecoran, pengecoran dalam kondisai yang sangat panas dan menghindari cold joint.

(e) Tipe E - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan mempercepat waktu pengikatan. Bahan tambah ini untuk menambah workability dan memberikan kekuatan awal yang tinggi, atau memberikan kekuatan awal yang lebih tinggi pada workability yang sama. Bahan tambah ini digunakan pada precast karena memungkinkan pelepasan bekisting lebih awal dan dipakai untuk pekerjaan perbaikan dimana kekuatan awal sangat diperlukan.

(f) Tipe F - bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi atau superplasticizer. Tipe F atau Superplasticizer adalah bahan tambah yang mengurangi air dalam campuran dengan cukup banyak dan sangat berbeda dengan Tipe A, D atau E. Penggunaan bahan ini digunakan membuat beton alir (flow concrete) untuk menjangkau tempat yang tak terjangkau oleh pengetar dan beton pompa (pumping concrete) pada jenis bangunan yang rumit.

(g) Tipe G - campuran bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi atau superplasticizer dan bahan memperlambat waktu pengikatan. Bahan tambah ini merupakan campuran dari Tipe F dan Tipe B, tetapi slump loss-nya lebih kecil bila dibandingkan dengan beton yang menggunakan superplasticizer.

BAHAN TAMBAH MINERAL

Bahan tambah yang berupa mineral atau bahan limbah seperti Fly Ash, Pozzolan, silica fume yang ditambahkan ke dalam campuran beton. Bahan tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang ditentukan dalam SNI 03-2460-1991.

Demikianlah tulisan tentang Persyaratan Bahan Bangunan Beton. Jika anda punya informasi lain terkait dengan beton, mohon masukannya. Terima Kasih